Adil Sejak dalam Pikiran

 

Pagi ini seperti biasa saya mengabil handphone untuk melihat pesan-pesan yang masuk di WA saya, dan ada ada seorang kawan di WAG mengirimkan link satu artikel dengan dibumbui kalimat yang menggelitik saya untuk membuka tautan tersebut. Saya baca paragraf per paragraf sampai selesai. Isinya cukup menarik dan di tulis oleh seorang profesor di bidang studi Islam dari salah satu universitas di Jawa Timur.

Dalam artikel tersebut beliau memaparkan pandangannya mengenai pengaruh pandemic Covid-19 terhadap defisit keagamaan di kalangan masyarakat. Saya sangat memahami beliau ini menulis artikel tersebut dari sudut pandangnya sebagai guru besar bidang sudi Islam, sehingga sudut pandang yang diambil adalah dari sudut dimensi keagamaan.

Tapi saya sangat menyayangkan paparan yang disampaikan terkesan tidak adil, seperti contohnya data yang beliau pergunakan seolah olah secara tendensius memojokkan pemerintah dengan melarang kegiatan di masjid-masjid, sedangkan mall dan pasar dibiarkan tetap ramai. Pemaparan ini berpotensi membuat banyak kalangan salah paham. Ini terkesan hanya agama Islam yang didiskriminasi oleh pemangku kebijakan. Padahal faktanya tidak seperti itu, tidak hanya masjid yang dibatasi, tempat ibadah lain seperti gereja juga dibatasi, tempat tempat yang berpotensi menjadi tempat berkumpulnya orang juga dibatasi, temasuk mall dan pasar.

Kalau mall dan pasar tetap banyak orang, itu bukan karena pemerintah tidak membatasi, tapi banyak orang yang tidak mengindahkannya dan tetap beraktifitas di tempat-tempat tersebut dengan alasnnya masing-masing. Di tempat-tempat ibadah juga terjadi pelanggaran seperti yang terjadi di mall atau pasar, masih banyak juga masjid yang tetap menyelenggarakan kegiatannya seperti salat jumat, tarawih dan sebagainya.

Di tempat saya contohnya --di daerah Depok, Jawa Barat. Masjid terdekat dari tempat tinggal saya, tetap menyelenggarakan salat jumat, tetap menyelenggarakan salat tarawih dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Jadi sangat tidak relevan kalau mengatakan pemerintah hanya membasi kegiatan di tempat ibadah salah satu agama saja.

Penggiringan opini seperti ini menurut saya tidak akan menghasilkan solusi terbaik untuk negeri ini, terlalu banyak orang-orang yang secara sadar ataupun tidak sadar membuat kondisi negara ini semakin tidak menentu. Ingat, sebagian besar warga kita adalah orang-orang yang sangat mudah diprovokasi.

Baru tadi malam saya “ngobrol” dengan seorang security dan seorang mandor bangunan sambil ronda di pos perumahan kami. Security ini saya kenal cukup “pintar” dibanding rata-rata security yang lain, karena salah satu hobbynya adalah nonton “Youtube” dengan isu yang hangat dibicarakan orang. Banyak hal baru yang dia tahu dari kegemarannya belajar dari sarana online tersebut. Caranya bertutur kata juga boleh diacungi jempol. Intinya dia terlihat cukup terpelajar. Saya mencoba menggali apakah dia bisa saya pancing amarahnya dengan isu-isu keagamaan seperti yang saya baca pada artikel profesor ini. Terus terang saya agak kaget juga saat membaca artikel tersebut, karena malam sebelumnya, baru saja saya membahasnya bersama security dan mandor bangunan.

Ternyata pancingan saya mengena, si security cukup tersulut amarahnya dengan saya mengatakan bahwa pemerintah sengaja menyudutkan umat Islam dengan melarang dan membatasi kegiatan di tempat-tempat ibadah seperti yang terjadi sekarang ini. Kondisi tadi malam lebih memanas lagi karena si mandor mengalami hal yang sama di tempat tinggalnya, dia tidak bisa melaksanakan salat jumat karena di tempat dia memang tidak diselenggarakan. Saya katakan salatnya di masjid dekat perumahan kami saja, karena memang tetap diselenggarakan.

Saya hanya ingin menyampaikan bahwa itulah potret sebagian masyarakat kita saat ini, sangat mudah diprovokasi dan diadu domba. Akhirnya saya mencoba menjelaskan bagaimana kondisi sebenarnya yang terjadi, bahwa tidak ada maksud pemerintah untuk menyudutkan satu agama tertentu dalam kondisi pandemic Covid-19 ini. Semua tempat keramaian yang berpotensi menjadi sarana peyebaran virus ini akan dibatasi. Tidak hanya masjid, tapi tempat ibadah lain pun diberlakukan sama. Dan tempat umum lainnya seperti mall dan pasar juga sama, demikian saya jelaskan

Urusan mall dan pasar tetap ramai, itu adalah hal yang berbeda lagi, pembatasan tetap dilakukan pemerintah secara keseluruhan, hanya karena mall dan pasar merupakan kegiatan ekonomi untuk urusan perut, maka banyak yang melanggarnya dengan tujuan mencari nafkah. Jadi wajar kalau pasar lebih ramai dari masjid atau tempat ibadah lainnya.

Setiap orang seharusnya memiliki tanggung jawab moral untuk bersama-sama membantu pemerintah menyelesaikan urusan pandemik ini, terlebih lagi orang-orang berpendidikan tinggi, seharusnya mereka punya tanggung jawab yang lebih besar lagi. Berhati-hatilah dengan lisan kita, jempol kita dan juga ujung pena.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari bersabda bahwa, keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan. Penting untuk menjaga lisan. Sebab lisan diibaratkan pisau yang apabila salah menggunakannya akan melukai banyak orang.

 

Comments

Popular posts from this blog

Beasiswa Kelas Dunia dari Menulis