Filosofi Sepatu
Pagi ini saya menerima tautan video dari sebuah grup di Facebook yang saya ikuti. Tautan tersebut dikirim oleh salah satu anggotanya. Setelah saya buka, ternyata itu adalah video dari “Nas Daily” yang video-videonya kerap saya tonton juga. Judul video tersebut adalah “How This Country is Fixing Religion”. Setelah selesai menonton video berdurasi tayang 3:28 menit itu, saya langsung sepakat dengan apa yang disampaikan dalam video tersebut.
Fenomena yang dijelaskan tersebut memang terjadi saat ini di banyak belahan dunia, banyak sekali orang yang mengatakan bahwa agama yang mereka anut lebih baik dari agama yang dianut oleh orang lain. Pernyataan seperti itulah yang membuat banyak orang berselisih paham dan membuat terjadinya intoleransi agama di mana- mana. Ini adalah masalah besar yang terjadi di dunia ini.
Dalam videonya, Nas menjelaskan bahwa ada sebuah negara yang sedang berusaha menyelesaikan permasalahan besar tersebut, yaitu United Arab Emirate. Sebagai salah satu negara yang berada di Timur Tengah, banyak orang yang tidak menyangka negara dengan populasi hanya sekitar 10 juta jiwa saja dengan 80% dari warganya adalah warga pendatang –memiliki tingkat kesadaran toleransi yang tinggi. Berarti warga aslinya hanya berjumlah 20% saja dari keseluruhan polpulasi di sana.
Sebagai salah satu negara muslim, di sana tentu sangat banyak kita dapati masjid, tempat umat muslim beribadah. Yang tidak kalah menarik, di sana juga banyak terdapat tempat untuk beribadah umat lainnya. Ada 45 gereja untuk umat Kristiani, Gurudwara untuk umat Sikhs, kuil untuk umat Mormons, pecahan dari agama Kristiani, dan sinagoge untuk umat Yahudi. Saya rasa hal tersebut tidak kita bayangkan sebelumnya bahwa itu terdapat di salah satu negara Arab. Ini adalah suatu hal yang besar.
Begitu banyak jenis agama atau kepercayaan di sana dan mereka tinggal bersama dalam kedamaian. Sebagai contohnya, umat muslim tidak makan babi atau minum alkohol, maka supermarket di negara tersebut akan menyediakan tempat khusus di supermarket tersebut untuk nonmuslim. Tempat tersebut menjual makanan atau minuman yang bagi umat muslim tidak dimakan atau diminum. Jadi ada semacam nonmuslim corner. Juga tetap ada bar atau tempat minum alkohol yang diperuntukan bagi nonmuslim.
Di saat panggilan salat bagi umat muslim terdengar, maka segala sesuatu harus dihentikan dulu, hal ini dilakukan untuk menghargai umat muslim. Seperti juga umat muslim menghargai saudara nonmuslimnya agar hidup nyaman dengan menyediakan nonmuslim corner di setiap super market, tempat minum alkohol dan hal-hal lainnya. Ini adalah sistem yang sangat indah, di mana umat muslim dan nonmuslim bisa hidup bersama dalam kedamaian dan keharmonisan
Ini yang membuat tahun 2019 lalu, Paus dari Vatikan datang langsung ke negara ini untuk berdoa bersama di sebuah negara muslim di Timur Tengah, dan kaum Yahudi juga dipersilakan untuk bergabung. Ini adalah hal yang luar biasa, sampai pimpinan umat Yahudi di sana mengatakan bahwa hal tersebut adalah pertama kalinya dilakukan setelah ratusan tahun, di mana komunitas umat Yahudi bisa didirikan dan diterima di tengah negara Arab.
Jadi yang ingin disampaikan adalah tidak ada agama atau kepercayaan yang lebih baik dari agama atau kepercayaan yang lain. Mereka hanya berbeda, dan perjalanan masih sangat panjang untuk mencapai apa yang dinamakan toleransi sejati di manapun. Di Arab, Amerika atau mana pun di belahan dunia lainnya. Kita harus belajar dan melakukan kerjanya untuk menciptakan toleransi sejati.
Sejatinya dalam beragama itu yang penting adalah membuat pemeluknya merasa nyaman, hidup tenteram dan damai. Kalau hal-hal tersebut tidak tercapai, mungkin ada yang salah dalam cara beragamanya. Tugas utama agama, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki moralitas manusia ke arah yang lebih baik. Mengubah sikap-sikap intoleran menjadi toleran –sadar dengan keanekaragaman masyarakat dan budayanya. Singkatnya, agama berfungsi untuk mengantarkan manusia dari “kegelapan” menuju alam yang “terang benderang”, dan menyadari bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan.
Waktu kecil, saya masih merasakan adanya toleransi beragama yang cukup baik di Indonesia. Saya merasakan antar umat beragama masih saling menghargai dan tolong menolong dengan baik. Pelajaran di sekolah mengenai “Bhinneka Tunggal Ika” juga masih sangat kental saya rasakan. Tapi akhir-akhir ini saya merasa kehilangan rasa itu. Betapa indah saya rasakan dulu hidup dengan harmonis dengan umat dari kepercayaan yang berbeda. Saling bercanda, bahkan saling ejek-mengejek menjadi hal yang lumrah saat itu.
Ya Tuhan, bantu kami mendapatkan apa yang dulu pernah kami rasakan, yaitu hidup berdampingan dengan segala perbedaan dalam kedamaian. Saya jadi ingat filosofi sepatu. Sepatu itu pasti berbeda antara kiri dan kanan, tapi ia selalu berjalan bersama…

Comments
Post a Comment