Rumah Gadai Yudistira

Bermula dari krisis moneter tahun 1998, di mana banyak sekali perusahan bangkrut yang mengakibatkan banyak sekali karyawan di-PHK. Perusahaan tempat saya bekerja memiliki karyawan sekitar 5.000 orang dan sekitar 3.000 diputus hubungan kerjanya. Saya termasuk satu dari 3.000 karyawan tersebut yang harus dirumahkan demi tetap berlangsungnya perusahan itu.

Masih teringat ketika itu saya menerima uang pesangon sekitar Rp4.000.000 dan itu bukan jumlah uang yang besar saat itu. Saya memiliki istri yang masih menyelesaiakan studi S1-nya dan kami sudah memiliki satu orang anak berusia dua tahun. Hal yang tidak saya lupakan adalah harga susunya Rp100.000 per kaleng. Saat itu saya belum memiliki rumah, karena memang masih menumpang di rumah orang tua, dan saya tidak memiliki apa-apa, selain sebuah handphone dan satu unit motor masih dalam masa kredit yang saya pakai sebagai kendaraan saya sehari-hari. Uang pesangon tersebut berkurang setiap harinya untuk keperluan hidup dan saya tidak mungkin melamar pekerjaan, karena memang tidak ada perusahaan yang menerima karyawan saat itu. Semua perusahaan merampingkan jajarannya demi keberlangsungan hidup perusahaannya

Setiap hari saya pergi keluar rumah mencari peluang demi mendapatkan rupiah, walaupun seringkali pulang tanpa hasil. Pada suatu hari, entah mengapa motor saya parkirkan di tempat parkir pasar loak Taman Puring, Kebayoran Baru. Saya duduk di atas motor tunggangan saya sehari-hari memperhatikan kegiatan orang di pasar tersebut. Saya lakukan itu selama berhari-hari, saya memperhatikan kegiatan yang menyita perhatian saya, yaitu jual beli handphone yang sangat ramai. Ketika itu sedang krisis moneter dan uang sangat sulit di dapat, itu yang saya rasakan tapi kenapa jual beli handphone terlihat sangat ramai. Sampai akhirnya saya memutuskan bahwa saya akan melakukan kegiatan tersebut.

Saya beranikan diri untuk berkenalan dengan seorang pedagang handphone yang memang sudah berhari-hari saya perhatikan. Saya beranikan diri untuk menyapanya di kala dia sedang tidak ada konsumen yang harus dilayani. “Bang, saya Yudistira”. “oh iya, saya Ipul” dia menjawab sapaan saya. “ saya boleh numpang jual hanphone saya di counter Abang ngga?, nanti kalau laku, abang saya kasih bagian” begitu saya bertanya. Setelah beberapa saat, dia menjawab “boleh aja,… taruh aja handphonenya di etalase”. Setelah memberikan handphone milik saya kepada dia, saya menunggu di luar kiosnya, karena memang ukuran kios di Taman Puring saat itu sangat kecil, saya 1 X 2m2.

Setelah beberapa konsumen dilayani, saya melihat ada seorang sedang melihat-lihat handphone saya yang tadi dititipkan, hati saya berdegup kencang dan saya berdoa semoga saja hansphone tersebut terjual. Dan ternyata benar, handphone saya terjual. Sulit dibayangkan betapa senangnya saya saat itu, setelah menerima uang penjualan dan memberikan bagiannya Bang Ipul, saya langsung bergegas pergi dari pasar tersebut menuju Pasar Jatinegara, karena kawan- kawan di Taman Puring banyak mendapatkan handphone bekas dari Pasar Jatinegara. Sesampainya di sana, saya langsung saja mencari handphone yang bisa saya jual lagi di Pasar Taman Puring. Setelah mendapatkan handphone tersebut, saya kembali lagi ke tempatnya Bang Ipul dan menitipkannya kembali untuk dijual.

Demikian kegiatan saya sejak saat saat itu. Bermodalkan satu buah handphone, menjadi dua handphone, lalu menjadi tiga handphone dan seterusnya. Sampai akhirnya saya bisa menyewa kios sendiri di Pasar Taman Puring. Sejak saya berdagang di Pasar Taman Puring saya memperhatikan suatu fenomena yang akhirnya menjadi awal ide saya mendirikan tempat gadai yang saya kelola sekarang.

Sering sekali ada calo datang ke kios saya di pagi hari, dan dia bilang “bang saya pinjem duit sekian ya, ini saya taro handphone saya, ntar sore saya tebus lagi” Ternyata uang yang dipinjam si calo tersebut dipakai olehnya untuk modal dia “menangkap” barang yang dibawa orang yang ingin menjual barangnya ke Taman Puring, karena memang sebagian orang datang ke Taman Puring dengan tujuan menjual barang, selain yang ingin mencari/membeli barang. Setelah mendapatkan barang, calo tersebut akan menjual barang tersebut ke pedagang Taman Puring lagi, dan dia mendapatkan untung. Demikian cara kerja calo atau orang yang tidak memiliki kios mencari nafkah di pasar tersebut. Setelah berhasil menjual barangnya, si calo itu pada sore harinya akan datang kembali ke kios saya mengembalikan pinjamannya dan memberi kelebihan pembayaran sebagai ucapan terima kasih karena dari uang yang dipinjam tersebut dia bisa mendapatkan peghasilan.

Kegiatan yang saya lakukan membantu para calo mendapatkan pinjaman cepat ini mulai dikenal di Taman Puring, sehingga semakin banyak yang datang. Dari hanya para calo yang datang untuk meminjam sejumlah uang dengan meninggalkan jaminan, mulai banyak orang “luar” datang melakukan hal sama, yaitu meminjam uang dengan meninggalkan jaminan. Akhirnya, di samping saya berdagang barang bekas di Taman Puring, tempat saya mulai dikenal juga sebagai tempat gadai.

Dari sanalah saya mulai menjalankan usaha gadai yang saya kelola sekarang. Mulai dari putaran uang hanya beberapa juta setiap bulannya, meningkat puluhan juta hingga ratusan juta, bahkan omset saat ini sudah lebih dari satu milyar setiap bulannya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Beasiswa Kelas Dunia dari Menulis