Selamat Jalan Covid-19

 

Belakangan ini sering sekali ita mendengar istilah “Herd Immunity”, baik dari berita-berita yang berseliweran di media sosial maupun WAG (Whats App Group). Saking gencarnya berita-berita tersebut, mengakibatkan persepsi yang berbeda-beda yang muncul di masyarakat. Istilah herd immunity ini kerap kali dikaitkan dengan istilah “New Normal” yang juga sedang menjadi buah bibir, karena sedang hangat di bicarakan. Semua ini sebenarnya tidak lain karena ulah “si Covid” yang tak juga mau menghilang. Padahal sudah banyak orang yang mendoakan agar si covid mau cepat pergi, mungkin hampir seluruh penduduk di muka bumi ini mendoakan hal tersebut.

Pembahasan ini menjadi viral, karena di jagat maya dikabarkan bahwa pemerintah akan mengadopsi cara herd immunity ini untuk menangani virus korona yang saat ini angkanya terus melonjak. Dalam narasinya dijelaskan bahwa pemerintah akan membuka mall-mall pada tanggal 06 Juni 2020 dan sekolah-sekolah pada tanggal 15 Juni 2020. Berita ini sebenarnya sudah ditangkal oleh Jakarta Lawan Hoax yang mengatakan berita tersebut tidak terbukti.

Isu itu juga ditepis oleh Tenaga Ahli Utama Kepala Staf Presiden Donny Gahral Adian. Donny menegaskan, pemerintah tidak akan memakai strategi herd immunity atau kekebalan kelompok untuk mengatasi pandemi virus korona. Donny menuturkan, pemerintah saat ini berfokus melandaikan kurva penularan virus korona secara bertahap. Hal itu dilakukan dengan tes masif untuk mengetahui puncak lonjakan kasus positifnya. Setelah kurva melandai, pemerintah baru akan mengambil kebijakan lain dalam mengatasi dampak pandemi virus corona, termasuk melonggarkan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Donny menilai, herd immunity berbeda dengan tindakan bertahap yang dilakukan pemerintah saat ini. Herd immunity akan langsung membebaskan semua sektor sedangkan pemerintah masih membuka secara bertahap dan protokol kesehatan tetap dilakukan dengan ketat.

Konsep itu yang disebut sebagai “New Normal”, yaitu kita memulai sesuatu yang baru seperti kehidupan normal kita dahulu, tapi disertai dengan protokol yang ketat, dan akan dilakukan evaluasi terus menerus. Sudah cukup lama kita berusaha membantu pemerintah dengan menuruti anjurannya yaitu berada di rumah saja, tapi tentunya tidak bisa seperti ini terus menerus, apalagi ada prediksi si Covid belum akan pergi sekitar 1-2 tahun ke depan.

Tidak mungkin juga kita terus di rumah saja selama itu, roda perekonomian dan bahkan roda kehidupan akan lumpuh jika seperti itu. Dalam hal ini akan dicoba konsep baru yang dikenal dengan “New Normal” tadi

Berbeda dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Nadiem Makarim. Dikatakan, Kemendikbud tetap akan menunggu hasil yang akan diumumkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 untuk menentukan bagaimana langkah yang akan diambil. Tapi Kemendikbud sudah mempersiapkan beberapa skenario yang akan dipakai untuk kelanjutan proses belajar mengajar ke depan. "Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah siap dengan semua skenario," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, orang awam banyak mengartikan herd immunity itu adalah dibiarkannya masayarat beraktivitas seperti biasa. Yang memiliki kekebalan tubuh baik akan bisa bertahan dan yang tidak memiliki kekebalan tubuh yang baik dengan sendirinya tidak bisa bertahan, sehingga akan muncul orang-orang yang bisa beradaptasi atau “berdamai” dengan virus ini. Itulah pemahaman banyak masyarakat kita saat ini mengenai herd immunity.

Kalau kita membuka Wikipedia, maka arti dari herd immunity adalah “Kekebalan kelompok atau kekebalan kawanan adalah suatu bentuk perlindungan tidak langsung dari penyakit menular yang terjadi ketika sebagian besar populasi menjadi kebal terhadap infeksi, baik melalui infeksi sebelumnya atau vaksinasi, sehingga individu yang tidak kebal ikut terlindungi”

Jadi apa itu herd immunity? Dilansir dari Aljazeera (20/03/2020), herd immunity mengacu pada situasi dalam suatu populasi yang memimiki kekebalan terhadap infeksi, sehingga dapat secara efektif menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Kekebalan tersebut bisa berasal dari vaksinasi atau dari orang yang menderita penyakit tersebut. Seberapa banyak orang yang dibutuhkan untuk menciptakan kondisi tersebut, tergantung pada seberapa menularnya pathogen tersebut.


Dilansir Business Insider (20/03/2020), untuk membatasi penyebaran penyakit campak misalnya, para ahli memperkirakan 93-95 persen dari polpulasi perlu kebal. Campak lebih menular daripada virus korona baru atau dikebal dengan nama Covid-19. Para ahli memperkirakan untuk menghentikan penyebaran virus korona ini, diperlukan sebanyak 40-70 persen dari populasi perlu kebal. Sementara herd immunity juga bisa dihentikan dengan vaksinasi. Sayangnya sampai saat ini belum tersedia vaksin untuk menanggulangi virus korona ini. Para ahli memperkirakan, setidaknya diperlukan waktu minimal sekitar 18 bulan atau lebih untuk bisa mengembangkan vaksin yang bisa menanggulangi virus korona ini. Cara lainnya dapat dicapai secara alami, yaitu ketika orang terinfeksi suatu virus lalu bisa pulih, maka biasanya dia akan kebal terhadap infeksi virus yang sama. Ini berfungsi ketika kemungkinan infeksi ulang rendah atau idealnya nol.


Bisa dibayangkan, angkanya 40-70 persen dari populasi harus kebal agar herd immunity terhadap virus korona ini bisa terbentuk, lalu berapa banyak jumlah populasi yang harus terinfeksi terlebih dahulu agar tercapai angka 40-70 persen kebal. Membayangkannya saja saya tidak berani.

 

Mungkin sebagai warga negara yang baik, yang bisa kita lakukan adalah mendukung pemerintah dengan segala kebijakannya, karena yakinlah bahwa di sana ada pakar-pakar yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan di wilayah kita demi mendukung pemerintah yang dalam hal ini adalah Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Kita doakan agar pandemik ini bisa segera berakhir dan si Covid mau segera pulang. “Selamat jalan Covid-19, semoga sampai tujuan ya, dan kami tidak akan merindukanmu”

 

Comments

Popular posts from this blog

Beasiswa Kelas Dunia dari Menulis